
Produk WiMAX-ceritified belum diimplementasikan secara komersial di dunia. Kemungkinan pertama kali yang akan menggelar adalah Korea dengan diimplementasikannya WiBRO dengan terminal portable untuk aplikasi mobile. Produk ini menggunakan frekuensi 2,3 GHz dengan lebar pita 8,75 MHz dengan menggunakan antena single input single output (SISO).
Aspek Regulasi
Karena frekuensi WiMAX adalah frekuensi baru, maka setiap pemerintah di negara manapun melalui regulatornya sedang sibuk menentukan alokasi frekuensi WiMAX yang harus disesuaikan dengan frekuensi eksisting. Indonesia sedang mengalami perdebatan yang serius untuk alokasi ini. Pemerintah melalui Dirjen Postel mengeluarkan white paper tentang penataan frekuensi untuk keperluan operasi BWA di antaranya di frekuensi 2,3 GHz; 2,4 GHz; 2,5 GHz; 3,3 GHz dan 3,5 GHz.
Operator satelit dan Asosiasi Satelit Indonesia (ASI) sangat tidak setuju dengan usulan frekuensi WiMAX dialokasikan di pita 3,5 GHz, karena telah lama diduduki untuk penggunaan frekuensi dinas satelit. Menurut ITU frekuensi ini ditetapkan sebagai frekuensi dinas satelit tetap (fixed satelite services) untuk link angkasa ke bumi. Satelite yang telah menggunakan frekuensi ini adalah Satelit TELKOM-1 (PT TELKOM) dan Satelite Palapa-2 (PT Pasifik Satelite Nusantara/PSN) yang umumnya digunakan untuk layanan VSAT dan DTH.
Regulator pada tahun 2000 telah mengeluarkan peraturan bahwa frekuensi ini dapat di-share untuk penggunaan BWA dan satelit. Namun dalam operasionalnya ternyata banyak ditemukan keluhan gangguan interferensi yang diterima oleh stasiun bumi dinas satelit. Untuk itu akhirnya pengalokasian kanal selebar 25 MHz di frekuensi 3,5GHz akhirnya direduksi menjadi tinggal 5 MHz. Dan sekarang pemerintah akan melakukan lelang izin frekuensi operasi BWA di pita 2,3 GHz untuk seluruh Indonesia yang berbasis regional sebanyak 3 blok dengan masing-masing blok 15 MHz. Di dunia pita frekuensi yang paling banyak dipilih oleh operator beroperasi di 3,5 GHz, artinya perangkat yang bekerja di pita frekuensi ini akan lebih murah dibanding perangkat yang beroperasi di frekuensi lain termasuk 2,3 GHz.
Jumlah Lisensi
Laporan kajian Maravedis bulan Januari 2006- lembaga analis riset dan pasar telco- menyebutkan bahwa pemegang lisensi WiMAX lebih banyak dibanding pemegang lisensi 3G untuk semua kawasan (North America, Europe, Asian Pacific region (APAC), Central America/Latin America region (CALA)). Total akumulasi pemegang lisensi WiMAX 721 sedangkan pemegang lisensi 3G sebanyak 106.

Gambar 4. Number of Licenses Holder
Mayoritas pemegang lisensi WiMAX adalah lisensi wilayah sedangkan untuk 3G adalah lisensi nasional, sehingga pasar WiMAX lebih fragmented dibanding 3G.
Harga Sewa (Cost Per Hz)
Average Cost per Hz spectrum 3G lebih mahal dibandingkan cost per Hz spectrum BWA/WiMAX. Di kawasan Eropa cost per Hz average cost per Hz spectrum 3G 1000 kali lebih mahal WiMAX. Mungkin karena waktu tender 3G di sana terjadi apa yang orang sebut dengan telecom bubble. Alasan lainnya adalah lisensi WiMAX ditenderkan untuk aplikasi fixed saja, sehingga pasarnya lebih kecil dibanding layanan mobile 3G.

Gambar 5. Grafik Perbandingan
Cakupan Layanan
Karakteristik transmisi radio melalui udara terbuka akan mengalami redaman free-space loss (FSL) yang merupakan fungsi dari frekuensi dan jarak. Semakin jauh jarak antara pemancar dan penerima maka semakin kecil sinyal yang diterima oleh penerima karena redaman yang dialami lebih besar. Semakin tinggi frekuensi operasi yang digunakan maka akan semakin besar redaman yang terjadi.

Gambar 6. Perbandingan Radius Sel WiMAX dan 1xEV DO
WiMAX Forum sedang menggodok standar WiMAX untuk aplikasi Fixed BWA (FBWA) dan untuk aplikasi Portable dan Mobile BWA. Untuk aplikasi portable dan Mobile BWA sampai saat ini belum ada produk yang tersertifikasi digelar secara komersial di dunia. Pertama kali akan digelar adalah di Korea dengan sistem WiBRO menggunakan spektrum frekuensi 2,3 GHz dengan lebar pita 8,75 MHz.

Gambar 7. Perbandingan Throughput menggunakan MIMO
Performansi WiMAX meningkat menjadi lebih baik ketika sistem menggunakan antenna multiple input multiple output.
Kemampuan Umum
Secara umum kemampuan WiMAX dapat dianalisis sebagai berikut:
§ Kemampuan Hand-off
Khususnya untuk WiMAX Portable dan Mobile. Handoff secara seamless akan sulit dilakukan karena komponen core network WiMAX tidak dirancang dari awal sebagai sistem yang mobile.
§ Power Control
Dibutuhkan power control yang baik di sisi reverse link untuk dapat memberikan feedback kepada pemancar mengenai kecepatan data yang dapat diterima penerima. Dalam teknologi WiMAX message based power control-nya masih lemah.
§ Battery Power Consumption
Idle state duty cycle yang digunakan di sistem WiMAX 9-14 kali lebih besar dibanding yang digunakan di sistem 3G seluler sehingga mode sleep operation yang digunakan untuk menghemat battery menjadi tidak efisien sehingga boros.
Ketersediaan Terminal
Ketersediaan terminal juga menjadi penentu keberhasilan penggelaran layanan telekomunikasi. Rencananya client terminal WiMAX ini nanti akan embedded di dalam consumer good seperti note book computer, smart handset, PDA dan lain sebagainya. Karena teknologi ini mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti Intel, Motorola, Samsung dan lainnya dimana tidak ada pihak yang paling dominant di dalam forum, maka kemungkinan ketersediaan terminal WiMAX akan lebih mudah dicapai

Gambar 8. Ketersediaan Terminal WiMAX
Jumlah Base Station
Komponen terbesar dalam investasi penggelaran jaringan tanpa kabel adalah infrastruktur base station. Jumlah pelanggan, tingkat performansi yang diinginkan, dan luas cakupan layanan adalah tiga faktor yang menentukan jumlah base station yang perlu digelar. Mengingat sistem BWA menggunakan frekuensi yang lebih tinggi dibanding teknologi 3G secara umum akan membutuhkan jumlah base station yang lebih banyak untuk mencakup luas layanan, jumlah pelanggan dan availabilitas jaringan yang sama.

Gambar 9. Jumlah Sel Base Station antara 3G dan WiMAX
Gambar di atas menunjukkan perhitungan jumlah base station yang dibutuhkan dengan menggunakan asumsi model propagasi Cos-Hatta di frekuensi 1900 MHz, 2500 MHz dan 3500 MHz.
KESIMPULAN
Kelebihan
§ WiMAX merupakan teknologi broadband wireless acess yang menawarkan standar open, dengan aplikasi fixed dan mobile (portable).
§ Lisensi WiMAX berbasis regional, bukan nasional seperti 3G sehingga biaya lisensi lebih murah dan akhirnya mudah diterima pasar.
§ Terminal WiMAX akan embedded di consumer goods, seperti computer notebook, smart phone dan PDA. Karena didukung oleh banyak pihak yang setingkat otorisasinya kemungkinan WiMAX lebih cepat diterima pasar.
Kekurangan
§ Karena menggunakan pita spektrum frekuensi tinggi, maka cakupan layanan WiMAX lebih kecil dibanding 3G sehingga jumlah base station yang dibutuhkan untuk mencakup luas yang sama dibutuhkan lebih banyak jumlah base station.
§ Alokasi spektrum frekuensi WiMAX memerlukan penyesuaian terhadap alokasi frekuensi eksisting di tiap negara. Ketidakseragaman alokasi frekuensi menyebabkan harga perangkat menjadi mahal.
§ Kemampuan ; WiMAX untuk mobilitas akan tidak sebagus sistem seluler dan konsumsi battery akan lebih boros.
REKOMENDASI
§ Pemerintah harus tegas mengeluarkan regulasi penataan frekuensi WiMAX agar tidak tumpang tindah terhadap jaringan telekomunikasi eksisting. Penggeseran frekuensi 3.5 GHz yang telah digunakan operator satelit untuk alokasi frekuensi BWA akan berakibat buruk terhadap negara, karena mencari pengganti spectrum frekuensi satelit lebih sulit dibanding frekuensi terrestrial.
§ Pemerintah harus mendorong kepada terciptanya masyarakat telekomunikasi dan informasi dengan memfasilitasi penggelaran WiMAX di Indonesia, karena sistem ini relative murah sehingga lebih mungkin diselenggarakan oleh operator kecil.
§ Operator BWA harus mempertimbangkan cakupan layanan sesuai dengan permintaan pelanggan dengan tepat karena bila tidak akan dibutuhkan jumlah base station yang banyak sehingga investasi menjadi tidak efisien.
Hazim Ahmadi, Bergabung dengan TELKOM RDC sejak tahun 1996, setelah lulus S1 Teknik Telekomunikasi STT TELKOM. Selama ini bekerja di Lab Wireless dan menangani teknologi broadband wireless, fixed celullar dan celullar.
REFERENSI
1. DitJen POSTEL, “Penataan Spektrum Frekuensi Radio Layanan Akses Pita Lebar Berbasis Nir Kabel”, KOMINFO, Nopember 2006.
2. “Broadband Wireless Access Options”, Qualcomm Inc., Oktober 2006.
3. Doug Gray, “Mobile WiMAX: A Performance and Comparative Summary”, WiMAX Forum, September 2006.
4. Patrick Adhiatmadja, “Wireless Broadband: The Future, today”, Motorola Asia, Nopember 2006.
5. Kajian WiMAX, TELKOM RDC, 2006.
6. Berbagai sumber.